Tampilkan postingan dengan label Kebangsaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebangsaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Mei 2012

Pokok Pikiran Kebangsaan KH Sahal Mahfudh

Para pendiri bangsa ini bercita-cita membangun bangsa ini secara utuh melalui seluruh batang tubuh Undang Undang Dasar 1945. Tujuan pembangunan bangsa ini adalah mewujudkan cita-cita sesuai yang diamanatkan oleh UUD 1945.

Dinamika yang muncul pada proses penyelenggaraan pembangunan ini dapat dianggap wajar apabila masih dalam bingkai tujuan itu. Akan tetapi ada beberapa persoalan yang akhir-akhir ini meresahkan pikiran saya –dan oleh karena itu patut didiskusikan bersama, yakni:

1. Ketatanegaraan

Otonomi daerah banyak mengalami komplikasi dan menjadi rawan terhadap konflik lokal dan politik uang sebagai akibat dari kebijakan one man one vote. Tidak semua persoalan –seperti agraria– patut untuk diserahkan kepada daerah, pusat seharusnya mempunyai kewenangan yang cukup besar mengatur hal-hal strategis bangsa.

Kedudukan dan fungsi MPR sebagai lembaga tertinggi negara perlu diperjelas kembali, diantaranya dengan mengangkat kelompok tertentu –seperti kelompok adat dan minoritas lain– yang sulit terwakili dengan sistem pemilihan yang berlaku saat ini.

2. Ekonomi

Walaupun globalisasi ekonomi sudah menjadi keniscayaan, perekonomian nasional semestinya tidak serta merta diserahkan kepada mekanisme pasar secara total. Pengalaman selama ini membuktikan bahwa kekuatan modal dan korporasi tidak membawa manfaat secara nyata dan merata kepada masyarakat. Negara seharusnya memperjelas kebijakan tentang perkoperasian dengan aturan yang lebih tegas dan berpihak. Negara harus diingatkan bahwa koperasi sebagai soko guru ekonomi tidak hanya sebatas jargon, tetapi harus menjadi semangat pengendalian perekonomian nasional.

3. Kebudayaan

Semangat kebangsaan (ukhuwah wathoniyah) harus secara terus menerus diperkuat kembali dengan cara apapun, baik melalui organisasi kemasyarakatan formal maupun non formal. Negara harus mempunyai strategi pengaturan masyarakat yang tegas dan kongkrit yang merujuk kepada Pancasila dan UUD 1945, sehingga ruang gerak dan pemikiran untuk mengubah asas dan dasar negara ini tidak semakin meluas. Negara harus menghidupkan kembali semangat gotong-royong (ta’awun) di level masyarakat sebagai gerakan pembanding terhadap perilaku hedonis, konsumtif, dan individualis yang telah menjadi perilaku sebagian masyarakat Indonesia.

Dengan demikian aspirasi untuk meninjau perubahan UUD 1945 secara selektif layak digulirkan untuk menyalakan kembali semangat berbangsa dan bernegara serta nasionalisme yang akhir-akhir ini cenderung redup, tentu saja dengan cara-cara yang arif dan memperhatikan kepentingan bangsa.

Pati, 7 Mei 2012

HMA. Sahal Mahfudh

*Disampaikan dalam roundtable discussion Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), 8 Mei 2012 di kampus Universitas Diponegoro, Semarang.

Sumber: | Jumat, 11/05/2012
Share:

Senin, 26 September 2011

Muhaimin: Berhentilah Melukai Bangsa Sendiri!

JAKARTA - Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, Muhaimin Iskandar, menyatakan, bom bunuh diri yang meledak di Gereja GBIS, Kepunton, Jalan Arif Rahman Hakim, Solo, Jawa Tengah, sangat menyakitkan. Apalagi peristiwa itu terjadi dalam kondisi masyarakat yang sedang menjahit kembali solidaritas kebangsaan.

"PKB sedih dan mengutuk keras peristiwa ini, siapapun pelakunya. Bangsa ini dibangun diatas dasar keberagaman. Peristiwa ini selain politis juga merusak bangunan keberagaman kita," tegas Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, dalam siaran persnya yang disampaikan Wakil Bendahara PKB, Bambang Susanto, di Jakarta, Minggu (25/9/2011).

Muhaimin meminta aparat keamanan jangan ragu-ragu untuk mengusut tuntas kasus ini. "Aparat harus tegas, tangkap yang terlibat. Saya minta seluruh jajaran warga ahlussunnah, termasuk PKB, untuk membantu saudara kita yang menjadi korban peristiwa mengenaskan ini," ucap Muhaimin.

Peristiwa bom bunuh diri ini terjadi yang kesekian kalinya di Tanah Air, dan selalu dihubung-hubungkan dengan umat Islam selama ini. Menanggapi ini Muhaimin menyampaikan perlunya membangun persaudaraan antar umat beragama dengan lebih kuat.

"Jika pelakunya umat Islam, saya orang pertama yang meminta maaf kepada saudara kita yang Nasrani. Islam tidak mengajarkan kekerasan, dan kepada umat Islam saya berpesan jangan melukai bangsa sendiri. Kita harus saling bantu-membantu dengan yang berbeda," jelas Muhaimin yang juga menjabat sebagai Menakertrans.(*/BUR)

Sumber: KOMPAS.com| Minggu, 25 September 2011
Share:

Jumat, 29 Juli 2011

Meriahkan Harlah ke – 13 PKB, DPC PKB Tulungangung Gelar Khataman Al – Qur’an, Talk Show dan Donor Darah

Tulungagung - DPC PKB Kabupaten Tulungagung peringati Hari Lahir (Harlah) Ke -13 PKB di gedung Graha Kebangkitan Bangsa, Jalan Letjen Suprapto 112 Tulungagung,. Dalam acara peringatan harlah tersebut digelar beberapa kegiatan atara lain Khataman Al-Qur’an, Tasyakuran, Talk Show serta donor darah.

Acara khataman Al-Qur’an yang dilaksanakan pada Senin, (25/7/11) pagi, menghadirkan sejumlah Hafidz (penghafal Al-Qur’an) dari Kecamatan Ngunut. Selain itu, rangkaian kegiatan Harlah ke - 13 PKB dilanjutkan dengan Tasyakuran Harlah dengan acara utama pemotongan tumpeng, Pidato Harlah dan Tausiah Politik.

Acara yang dihadiri oleh Sekretaris DPW PKB Jawa Timur H Koirudin Abbas MSi, Anggota Fraksi PKB DPRD Jawa Timur Muhaimin Hadi dan Ketua Dewan Syuro DPC PKB Tulungagung KH Muhsin Ghozali. Hadir pula seluruh pengurus DPAC PKB se-Tulungagung dan anggota Koperasi Wanita Bangkit.

Dalam pidato politiknya, Sekretaris DPW PKB Jawa Timur, H Koirudin Abas MSi mengatakan Harlah Ke-13 pada tahun ini memiliki makna yang sangat dalam, selain itu, angka 13 yang juga pernah melekat pada nomor urut PKB pada Pemilu yang lalu. Dalam usianya yang ke-13 ini, H Koirudin berharap PKB tetap berada pada jalur yang tepat dalam perjuangan menegakkan yang benar.

“PKB selalu berusaha menjaga hubungan yang baik dan harmonis dengan NU dan warga Nahdliyin. Sebab, dalam sejarahnya, kehadiran PKB dalam panggung perpolitikan nasional tidak terlepas dari NU dan warga Nahdliyin,” kata Koirudin

Dalam acara yang berbeda dan masih dalam rangkaian acara Harlah ke-13 PKB yang digelar di tempat yang sama, Koirudin juga tampil sebagai pembicara dalam acara Talk Show yang mengangkat tema “Pemuda dan Politik Kebangsaan” mendampingi Ketua KPU Kabupaten Tulungagung, Suyitno Arman S.Sos.

Aacara Talk Show tersebut dihadiri oleh para aktifis, baik dari LSM, Ormas, organisasi kepemudaan, organisasi mahasiswa dan kalangan akademisi. Acara yang berlangsung dengan meriah ini pada akhirnya memunculkan banyak gagasan dan masukan, diantaranya tentang usaha dalam membangun PKB agar ke depan dapat menjadi partai yang lebih besar dari yang ada serta memberi kesempatan lebih banyak kepada generasi muda dalam panggung politik, selain itu juga terdapat masukan tentang bagaimana menata kaderisasi dan membangun kekuatan untuk menangkal adanya ideologi radikal yang terus menghantui masyarakat.

Rangkaian harlah yang ditutup dengan kegiatan donor darah yang dilaksanakan pada Selasa (26/7/2011) Siang, juga juga berlangsung semarak. Puluhan warga berdatangan langsung ke Graha Kebangkitan Bangsa guna mendonorkan darahnya.

Dala kesempatan itu, Sekretaris DPW PKB Jatim Koirudin Abbas pun menjadi peserta pertama donor darah, yang kemudian diikuti oleh Ketua DPC PKB Tulungagung Adib Makarim, anggota Fraksi PKB DPRD Tulungagung serta warga yang secara sukarela menyumbangkan darahnya untuk kepentingan masyarakat yang membutuhkan. (mil/lie berbagai sumber) sumber: PKB Online
Share:

Selasa, 26 Juli 2011

NU, PKB, dan Nilai-Nilai Kebangsaan

Tak dapat dimungkiri, sejarah telah mencatat bahwa roh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) adalah warga nahdliyin dan deklarator PKB tidak lain adalah para kiai NU yang dideklarasikan di Jakarta pada 23 Juli 1998.


Pahatan sejarah ini bisa ditarik dalam suatu garis lurus bahwa secara hubungan timbal balik antara NU dan PKB, sesungguhnya tidak dapat dipisahkan begitu saja satu dengan yang lainnya.

Kelahiran PKB atas inisiatif warga nahdliyin demi tersalurkannya aspirasi warga nahdliyin, yang selama era Orba mengalami represi politik yang membuat warga NU tiarap tanpa mampu meluapkan ekspresinya secara maksimal.

Kesamaan Visi

NU lahir didorong oleh semangat kebangsaan yang tinggi, untuk mempertahankan Islam yang ramah dan mampu bersinergi pada nilai budaya setempat.Tandasnya, gerakan perjuangan yang dilakukan NU adalah menampilkan Islam rahmatan lil alamin.

Sementara itu, PKB lahir sebagai partai inklusif kebangsaan yang bersendikan dan menjunjung tinggi atas nilai-nilai dan ajaran NU dengan karakteristik yang nasionalis. PKB menyadari arti pentingnya keberagaman serta mengako-modasi kepentingan semua pihak, tanpa harus membeda-bedakan suku,ras,agama.

Dari sinilah, PKB meyakini sepenuhnya bahwa keindonesiaan yang mengacu pada landasan Pancasila, dengan penjiwaan hubungan tali persaudaraan antar sesama yang terikat dengan ikatan keagamaan (ukhuwah diniyah), kebangsaan (ukhuwah wathoniyah),dan kemanusiaan (ukhuwah insaniyah) merupakan jalan terbaik.

Pelaksanaannya dengan senantiasa mengedepankan semangat akomodatif, kooperatif, dan integratif, tanpa saling mempertentangkan antara satu dan yang lainnya. Sikap politik PKB tersebut tampak sekali sejalan dengan sikap NU yang menerima Pancasila sebagai ideologi bangsa dalam Muktamar ke-27 di Situbondo pada 1984.

Seperti halnya pula,ungkapan yang kerap dilontarkan para petinggi NU bahwa NU haruslah tetap menjadi ormas garda depan yang mengukuhkan nilai-nilai kebangsaan dan kerakyatan. Khitah NU 1926 yang ditetapkan kembali pada Muktamar NU pada 1984 di Situbondo haruslah dipahami secara berimbang.

Pada dasarnya,khitah NU tidaklah membatasi gerak warga NU untuk berpolitik. Meminjam istilah Andree Feillard dalam NU Vis-a-Vis Negara (1999),“NU mungkin bukan sebuah gerakan politik, tetapi ia tetap akan menjadi suatu kekuatan politik. Dengan demikian, ia tidak bisa menjauh dari arena politik.”

Politik kebangsaan dan kerakyatan NU juga telah dipertegas dalam Muktamar NU tahun 1989 di Krapyak, Yogyakarta. Gerakan politik kebangsaan NU tersebut merupakan aset yang berharga untuk dijadikan instrumen NU dalam mencapai cita-cita masyarakat madani, serta bagaimana strategi gerakan NU yang jitu dalam menjawab berbagai tantangan masyarakat yang menghalangi dan menghambat,atau bahkan mematikan potensi sumber daya NU.

Dari sinilah, tidaklah penting untuk mempertentangkan antara NU dan PKB. Pada kenyataannya, keduanya memiliki semangat perjuangan yang sama.Bila terus-menerus mempertentangkan antara NU dan PKB maka akan justru menyertakan suatu penundaan untuk berbuat kebajikan bagi semua pihak, baik dalam tataran dakwah Islam ahlus sunnah wal jama’ah maupun pembelajaran politik.

Berpacu dengan Waktu

Sejauh ini, kita terus-menerus berproses dalam kebangsaan untuk menjadi bangsa yang berdaulat, yaitu menjadi bangsa yang memiliki identitas jati diri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Wajah dan coraknya tentunya telah banyak mengalami perubahan dan perkembangan.

Nilai-nilai kebangsaan telah mengalami pasang-surut seiring dengan perubahan zaman dan tuntutan masyarakat. Cita-cita Indonesia merdeka, yang kemudian diulangi melalui beberapa perubahan besar dan kecil, yang pada dasarnya merupakan pengulangan komitmen bangsa ini untuk hadir sebagai bangsa yang modern dengan penghormatan yang penuh terhadap segi kemanusiaan warganya.

Karena itu, sungguh diperlukan reformulasi nilai-nilai kebangsaan dan kebersamaan sebagai bangsa, sebuah rumusan bersama untuk menentukan nilainilai yang patut dianut bersama sebagai keluarga bangsa.

Tak ada tempat lagi untuk menjadi hipokrit, menjadi bangsa yang kerdil dan menolak kemajuan- kemajuan dengan mengusung nilai-nilai yang sudah tidak relevan, seperti eksklusivisme, mengetengahkan kekerasan dan menolak kemajemukan, serta kemajuan yang hanya semakin menunjukkan kekerdilan di mata dunia.

Bangsa tidak dapat terwujud atau terbentuk dengan sendirinya. Bangsa harus dibangun atau dibentuk para pendiri dan pemimpin bangsa. Bangsa Indonesia dirintis pembentukannya melalui pembangkitan nilai-nilai kebangsaan yang ditanamkan, seperti oleh Wahidin Sudirohusodo, Cipto Mangunkusumo, Sutomo.

Akhirnya,tak pelak NU dan PKB merupakan sebuah keniscayaan politik yang harus tumbuh dan berkembang apa pun rintangannya untuk diper-sembahkan bagi bangsa Indonesia yang majemuk ini. Relasi NU dan PKB adalah historis, kultural, dan institusional.

Dalam tafsir praksisnya, khitah NU sesungguhnya “berakhir” ketika NU melahirkan PKB.Meskipun warga NU ada di manamana, berkiprah di semua parpol, akan tetapi fakta menunjukkan bahwa NU telah melahirkan PKB. Dengan sendirinya,ada pergeseran khitah secara orientasi dan tuntutan.

Orientasi pada penguatan nilai-nilai kebangsaan yang saat ini tengah mengalami penurunan kualitas merupakan rujukan utama dalam menata dan mempersiapkan langkah-langkah nyata bagi semua komponen bangsa, tak terkecuali NU.

Globalisasi dan modernisasi yang membuat banyak perubahan sikap dan mental masyarakat merupakan tuntutan bagi segenap anak bangsa untuk melakukan upaya transformasi secara masif, dengan menanamkan nilai-nilai kebangsaan yang bisa menjadi sumber ketahanan karakter bangsa.

Transformasi masif ini bisa dilakukan secara efektif dan terfokus melalui penguatan ormas keagamaan seperti NU dan partai berbasis kebangsaan dan keagamaan yang inklusif.

Oleh: MARWAN JA’FAR, Ketua Fraksi PKB DPR RI

sumber: PKB Online
Share: